GEJALA KECEMASAN (ANXIETY) YANG SERING DIABAIKAN DAN CARA MENGATASINYA
- Redaksi

- 12 Mei
- 3 menit membaca

Gejala kecemasan (Anxiety Disorder) merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan rasa takut dan khawatir berlebihan terhadap situasi tertentu. Selain memengaruhi pikiran, kondisi ini juga dapat menimbulkan gejala fisik seperti jantung berdebar dan tubuh berkeringat. Pada dasarnya, rasa cemas adalah reaksi yang wajar, terutama saat menghadapi tantangan seperti pekerjaan, wawancara, ujian atau pengambilan keputusan penting. Namun pada anxiety disorder, rasa takut dan khawatir muncul secara berlebihan dan sulit dikendalikan, gangguan ini dapat dialami oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. WHO menyatakan jika terdapat 301 juta orang memiliki di dunia, di mana 58 juta penderita anxiety disorder adalah anak-anak dan remaja. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, anxiety disorder berada di peringkat 2 dari 10 penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia dari tahun 1990-an sampai 2017.
Apa saja gejalanya?
Kecemasan tidak selalu muncul sebagai ketakutan yang intens atau serangan panik yang dramatis. Seringkali, kecemasan bermanifestasi dalam gejala fisik dan perilaku halus yang dianggap sebagai masalah Kesehatan umum atau kelelahan biasa.
Gejala Fisik yang sering diabaikan
Masalah Pencernaan Kronis: Sakit perut, mual, diare atau sindrom iritasi usus besar (IBS) yang tidak memiliki penyebab medis yang jelas seringkali berakar dari kecemasan
Nyeri Otot dan Ketegangan: Bahu kaku, rahang yang sering terkatup rapat, atau sakit kepala tegang akibat otot yang terus menerus menegang
Kelelahan Ekstrim: Merasa lelah meskipun sudah cukup tidur, karena kecemasan membuat tubuh dan otak bekerja terus-menerus dalam mode “waspada”
Gangguan Tidur: Sulit tidur (insomnia), sering terbangun di malam hari atau bangun tidur dengan perasaan cemas/lelah
Pusing atau Kepala Ringan: Sensasi melayang atau tidak seimbang tanpa penyebab medis yang spesifik
Gejala Perilaku dan Kognitif yang sering diabaikan
Perfeksionisme Ekstrim: Kebutuhan berlebihan untuk mengatur segala hal agar terasa aman, yang sebenarnya bersumber dari rasa takut akan ketidakpastian
Prokrastinasi (Menunda-nunda): Menunda pekerjaan bukan karena malas, melainkan karena kewalahan dan takut gagal
Ketidakmampuan untuk fokus: Pikiran yang terus melompat dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran lain (overthinking), sehingga sulit berkonsentrasi
Sering meminta kepastian (Reassurance Seeking): Kebutuhan terus-menerus untuk bertanya pada orang lain apakah mereka melakukan hal yang benar atau aman
Mudah marah atau Tersinggung: Kecemasan dapat bermanifestasi sebagai sifat lekas marah karena sistem saraf yang terus tertekan
Mengapa gejala ini sering diabaikan?
Karena banyak orang mengaitkan gejala-gejala di atas dengan stress kerja biasa, gaya hidup, atau penyakit fisik ringan, sehingga terlambat menyadari bahwa ada masalah kesehatan mental yang mendasarinya.
Herbal Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Mental
Selain terapi psikologis dan obat-obatan konvensional, herbal telah lama digunakan sebagai alternatif untuk menjaga kesehatan mental. Di Indonesia, banyak penelitian menunjukkan bahwa tanaman-tanaman herbal dapat membantu mengurangi stres, kegelisahan dan depresi.
Kunyit (Curcuma longa)
Kita sudah tidak asing lagi dengan kunyit, yang juga dikenal sebagai bahan utama dalam masakan kari. Namun, kunyit memiliki kandungan kurkumin yang telah terbukti secara ilmiah memiliki efek antidepresan. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kurkumin dapat meningkatkan kadar serotonin dan dopamine di otak, yang keduanya memainkan peran penting dalam menjaga suasana hati tetap stabil. Selain itu, kunyit juga memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat mengurangi peradangan, salah satu penyebab gangguan mental
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Studi yang dilakukan Universitas Gajah Mada menunjukkan bahwa ekstrak temulawak dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Temulawak juga memiliki antioksidan yang membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat radikal bebas. Konsumsi temulawak secara teratur bisa menjadi salah satu cara kamu untuk menjaga Kesehatan mental
Daun Mint (Mentha piperita)
Penelitian dari Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa aroma mint dapat merangsang produksi serotonin, hormon yang bertanggung jawab atas perasaan bahagia dan relaksasi. Kamu bisa menyeduh daun mint menjadi teh atau menambahkannya dalam salad untuk mendapatkan manfaat ini.
Lidah Buaya (Aloe vera)
Penelitian di Universitas Airlangga menemukan bahwa lidah buaya mengandung senyawa antikolinesterase yang dapat meningkatkan fungsi kognitif dan mengurangi gejala depresi. Kamu bisa mengonsumsi jus lidah buaya sebagai salah satu cara untuk menjaga Kesehatan mentalmu
Jintan Hitam (Nigella sativa)
Studi di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa konsumsi jintan hitam atau habbatussauda secara teratur dapat meningkatkan kadar serotonin dan dopamin di otak. Hal ini membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi. Kamu bisa menambahkan jintan hitam dalam makanan atau mengonsumsinya sebagai sumplemen
Daun Manggis (Garcinia mangostana)
Penelitian dari Universitas Brawijaya menemukan bahwa ekstrak daun manggis mengandung xanthone, senyawa yang memiliki efek antidepresan dan antioksidan. Dengan mengonsumsi teh daun manggis, kamu dapat membantu melindungi otak dari kerusakan oksidatif dan meningkatkan mood
Sambiloto (Andrographis paniculata)
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Padjajaran menunjukkan bahwa sambiloto memiliki efek anxiolitik, yang berarti dapat mengurangi kecemasan. Kandungan andrographolide dalam sambiloto berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi otak dari stress oksidatif






























Komentar